Masifnya arus urbanisasi mengakibatkan lingkungan perkotaan banyak kehilangan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Khususnya di daerah populasi padat, RTH kian terkikis menjelma menjadi fasilitas umum. Bukan tidak mungkin, krisis ruang hijau yang berlanjutan tidak hanya berpotensi memicu banjir, melainkan juga menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan. Krisis ini tak pelak melanda sejumlah perumahan modern di Kota Makassar. Memahami kendala pada tiap lingkungan hunian modern di Kota Anging Mamiri, FKS Land memutuskan kedepankan konsep Green Living Environment pada perancangan Cluster Perdana Tallasa City, Akasia. Artikel berikut akan mengajak Anda memahami pentingnya konsep Green Living Environment yang ditawarkan Cluster Akasia Tallasa City Makassar. Sebelum mulai menjajaki pentingnya ruang hijau yang dekat dengan pemukiman, ada baiknya meninjau kembali krisis RTH Kota Makassar. Mengutip Rakyatku News (12/4/18), pemanfaatan lahan RTH Kota Makassar baru mencapai 13% dari total luas daerah. Angka ini jauh di bawah ketetapan Dinas Lingkungan Hidup yang minimal 30% untuk wilayah kota. Pertumbuhan sosial-ekonomi Makassar yang pesat memicu ekspansi apartemen, hotel, dan perumahan modern tanpa mengindahkan anjuran pembuatan RTH privat. Modernitas gaya hidup yang demikian malah menjauhkan kepada kualitas hidup yang kurang seimbang dan jauh dari suasana alam. Di tengah krisis RTH Kota Makassar, Cluster Akasia tampil beda. Cluster Akasia di Tallasa City dirancang agar memenuhi standar perumahan modern yang dekat dengan alam. Hal ini dibuktikan dengan pengembangan hunian berkonsep Green Living Environment di Cluster hunian bergaya modern minimalis tersebut. Green Living Environment sendiri merupakan konsep gaya hidup modern yang menerapkan penambahan lebih banyak ruang hijau di sebuah areal pemukiman. Adapun penerapan Green Living Environment menunjukan sejumlah manfaat. Menurut Jurnal Epidemiology & Community Health, ada semakin banyak bukti bahwa penyediaan ruang hijau di sekitar hidup manusia dapat meminimalisir gangguan kesehatan fisik dan mental. Studi ini juga menekankan pentingnya penambahan ruang hijau di sekitar pemukiman dengan banyak anak kecil dan kelompok sosial-ekonomi menengah ke bawah. Merujuk pada penelitian di atas, aplikasi ruang hijau di sekitar cluster hunian Akasia sudah sangat tepat. Hal ini selaras dengan pengembangan Cluster Akasia itu sendiri yang didominasi rumah bertipe kecil dan sedang. Baik Akasia tipe 38/72, Akasia tipe 38/90, dan Akasia tipe 49/96 banyak diminati anggota masyarakat dari lapisan menengah ke bawah yang baru saja memiliki anak kecil. Secara garis besar, konsep Green Living Environment pada Cluster Akasia turut membangun lingkungan perumahan ramah kesehatan anak. Jurnal bidang kesehatan pernapasan, Jurnal European Respiratory mencatat Green Living Environment terbukti melindungi anggota komunitasnya dari berbagai macam alergi dan gangguan pernapasan. Penelitian yang sama menyebut bahwa peningkatan kontak manusia dengan lingkungan alam memperkaya sel-sel mikroba manusia, mendorong keseimbangan imun tubuh dan gangguan radang tenggorokan pada anak-anak. Cluster Akasia tidak sekedar dirancang memenuhi kebutuhan hunian di tengah Kota Makassar yang maju pesat, melainkan juga memenuhi tuntutan gaya hidup modern yang sehat. Sudah sepatutnya, hunian modern yang berkualitas juga melindungi tiap-tiap anggota komunitasnya dari berbagai macam gangguan fisik dalam jangka waktu yang panjang. Jadi, mulailah jaga kesehatan melalui pemilihan hunian yang tepat. Berhuni di Cluster Akasia dijamin dapat menuntaskan kegundahan Anda tinggal di tengah kota Metropolitan yang rawan gangguan kesehatan fisik dan mental. Cluster Akasia berdiri di kawasan berkembang Kelurahan Kapasa, Kecamatan Tamalanrea yang masih hijau dan asri. Segera tetapkan pilihan hunian Anda di Cluster Akasia Tallasa City! (IA) Tag: Green Living Environment, Cluster Akasia, Tallasa City, FKS Land, RTH, Krisis RTH Kota Makassar, Manfaat Green Living Environment  

TELEPON
CHAT WHATSAPP